Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Kelam Tragedi Mandor di Kalimantan Barat


Tragedi Mandor Kalimantan Barat

Kami cuma tulang-tulang berserakan tapi adalah kepunyaanmu Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan.

Penggalan puisi karya Chairil Anwar ini seolah menggambarkan Bahasa Kalbu setiap tulang-belulang yang tersisa dari keganasan penjajahan Jepang, tidak ada yang mereka tinggalkan kecuali selembar kisah perjuangan satu generasi yang diharapkan dikenang oleh generasi penerusnya. Inilah satu peristiwa Tragis pembantaian warga Kalimantan Barat yang dikenal dengan tragedi mandor 28 juni pada tahun 1944. 

Pada tanggal ini terjadinya peristiwa tragis yang menimpa warga Kalimantan Barat pada masa penjajahan Jepang, peristiwa ini merupakan bagian dari Catatan sejarah Setelah bangsa Indonesia dimana ribuan rakyat tidak berdosa dibantai secara keji oleh tentara Jepang dai nippon. Pembantaian ini menyisir seluruh lapisan masyarakat mulai dari keluarga Kesultanan, kaum cendekiawan, hingga rakyat biasa. peristiwa berdarah ini kemudian dikenang sebagai peristiwa berdarah mandor yang terjadi pada tanggal 28 Juni 1944.

Latar Belakang Peristiwa Mandor

Perang dunia ke-2 yang berkecamuk di Eropa sejak tanggal 1 September 1939 turut berkobar hingga ke Asia Pasifik di mana ke kaisaran Jepang memulainya dengan menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawai pada tanggal 14 Desember 1941 kala itu kekaisaran Jepang melancarkan rencananya ini untuk membentuk negara Asia Timur Raya, sedikit demi sedikit Jepang menaklukkan negara-negara di Asia khususnya bagian Tenggara yang kaya akan hasil bumi dan tenaga kerja untuk kepentingan perang mereka. 

Amerika Serikat yang mulanya bersikap Netral berubah menjadi Sigap menyatakan perang terhadap Jepang, inilah tanda berkobarnya perang Asia Pasifik yang membuat Jepang dalam waktu yang relatif singkat berhasil menguasai kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia, keberhasilan Jepang menguasai wilayah di Indonesia membuat Belanda yang kala itu masih menjajah Indonesia menyerah tanpa syarat hingga lari tunggang-langgang terhadap tentara Jepang pimpinan Jenderal Hitoshi Imamura inilah babak dimulainya penjajahan Jepang di Indonesia termasuk di Kalimantan Barat.

Penjajahan jepang di Indonesia (Kalimantan) 

Kedatangan jepang pertama kali hari jumat tanggal 19 desember 1941. Kala itu di hari ketika masyarakat hendak melaksanakan sholat jumat, yang mulanya tenang justru merasakan bom berjatuhan dari langit, berbagai jenis bom dimuntahkan dari perut  pesawat bomber milik jepang Sasaran awalnya adalah tangsi-tangsi militer KNIL belanda yang berada di pontianak. Namun, nahas bom tersebut menghantam persekolahan, pasar dan rumah milik pribumi akibat salah target, ratusan penduduk Pontianak gugur. Peristiwa ini dikenal kapal terbang sembilan sebab pada saat itu ada sembilan pesawat terbang Jepang yang membombardir pontianak.

Setelah melakukan pengeboman dan Peperangan darat pada tanggal 2 Februari 1942 pasukan Jepang mulai memasuki dan menguasai Pontianak, pasukan KNIL Belanda yang terkenal garang terhadap kaum pergerakan Indonesia sudah dahulu kabur sebagai pecundang ke arah pedalaman. 
Rakyat Kalimantan Barat yang sebenarnya sudah menyimpan kebencian terhadap Belanda akhirnya menerima Jepang dengan tangan terbuka sebagai pembebas penjajahan barat bahkan kesultanan-kesultanan dan Panembahan kemudian menyatakan tunduk dan setia kepada pemerintahan dainippon alhasil bendera hinomaru dikibarkan di beberapa tempat termasuk di depan Istana Kesultanan. 

Propaganda Jepang di Kalimantan

Di masa awal kedatangannya Jepang melakukan mobilisasi terhadap rakyat untuk kepentingan Mereka salah satunya dengan merekrut para pemuda bergabung ke organisasi semi militer seperti Heiho, Seinendan, maupun keigo. Dan anak-anak diwajibkan untuk sekolah dan menerima pengajaran gaya Jepang yang efektif sebagai penetrasi budaya. 

Kedatangan Jepang ini menjadi angin segar terbebasnya rakyat Pontianak dari belenggu penjajahan bangsa Barat atau penjajahan Belanda, dengan menyatakan diri sebagai saudara tua Jepang menebar janji untuk membebaskan negara-negara di Asia dari penjajahan barat. 

Propaganda ini awalnya berhasil namun dugaan Mereka ternyata salah, sejalan dengan misi Jepang membangun generasi yang patuh dan berkiblat kepada kaisar Jepang rakyat pun akhirnya menjadi korban mereka dipaksa menyerahkan hasil panen perhiasan dan menjadi romusha atau kerja paksa segala macam dan strategi ditanamkan oleh Jepang kepada segala lapisan masyarakat yang bertujuan untuk membantu Jepang memperoleh kemenangan dalam Perang Asia Timur Raya. 

Namun, karena usaha itu tidak berjalan mulus Jepang kemudian melakukan berbagai pembunuhan untuk menciptakan sebuah generasi baru yang pro Jepang. Sebenarnya Jepang begitu mengincar Pulau Kalimantan secara umum karena kaya akan Hasil tambang yang berguna agar mesin-mesin perang jepang tetap berjalan sedangkan hasil hutan seperti kayu sangat dibutuhkan untuk membangun berbagai infrastruktur perang. Alhasil semakin hari kehidupan rakyat dalam bidang sosial maupun ekonomi kian sulit di bidang sosial banyak penduduk Pontianak terutama orang-orang Tionghoa menyingkir melarikan diri ke daerah pedalaman, jalanan menjadi sepi dan seperti kota mati terlebih malam hari tidak ada rakyat yang berani keluar rumah. 

Bagi kaum wanita diambil secara paksa dari rumah-rumah penduduk untuk memenuhi tenaga wanita penghiburnya Jepang menangkap wanita baik pribumi atau keturunan Tionghoa yang pernah menjalin hubungan dengan tentara Jepang kehidupan dimasa itu bagaikan tinggal di dalam neraka, di bidang ekonomi juga tidak kalah mengkhawatirkan sembako sangat susah didapatkan dan jika harganya sangat mahal pasar-pasar kehilangan keramaian karena Jepang menutup pengiriman kebutuhan pokok yang sebenarnya didatangkan dari seberang pulau. Singkat kata, janji-janji kemerdekaan yang dihembuskan Jepang hanyalah isapan jempol di wilayah Kalimantan Barat dan justru yang tampak hanyalah kesengsaraan rakyat yang bertambah. 

Kronologi Tragedi Mandor

Pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang Berawal dari sebuah desas-desus yang terdengar oleh pihak Jepang semua karena sebuah kecurigaan Dimana tokkeitai atau (Polisi Rahasia Kaigun) mencium adanya suatu persekongkolan untuk melawan Jepang pada masa itu kebal Dian rakyat Indonesia terhadap Jepang memang memuncak selama penjajahan Jepang rakyat dipaksa bekerja, disiksa jika tidak menurut, kelaparan hingga tidak punya pakaian. 

Berdasarkan informasi yang beredar pada April 1942 Sultan Pontianak Syarif Muhammad alkadrie mengundang seluruh kepala swapraja dalam hal ini Sultan dan penambahan di seluruh Kalimantan Barat ke Kraton Kadriyah inti daripada undangan ini sebenarnya membicarakan Kondisi kehidupan terkini secara bulat para pemimpin Kesultanan Ini akhirnya satu pendapat bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan rakyat itu ialah dengan mengenyahkan Jepang, disaat yang sama jepang membutuhkan simpati masyarakat untuk mendukung perangnya yang kemudian Jepang mendirikan Nissinkai semacam organisasi politik yang legal bagi Jepang untuk menyalurkan ide-ide politis yang tentu saja harus sejalan dengan kepentingan mereka. Akan tetapi, justru sebagian besar anggota Ninssinkai ini membelok membela pergerakan bawah tanah, salah satu anggota Nin singkay ini adalah Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-kadri. 

Di kemudian hari kelompok kesultanan di Kalimantan Barat ini semakin besar dengan bergabungnya sejumlah tokoh-tokoh politik mint singkay karena gerakan ini bersifat rahasia dan gerakan secara bawah tanah tidak ada yang mengetahui secara pasti Apa nama kelompok perlawanan tersebut. 

Dalam buku sejarah Kebangkitan Nasional daerah Kalimantan Barat Sudarto mengatakan kelompok rahasia ini lebih sering disebut gerakan 69 karena berjumlah sebanyak 69 anggota. 

Kekejaman jepang di Kalimantan Suatu perlawanan melawan Jepang akhirnya memang terjadi. Namun, bukan di Kalimantan Barat melainkan di Kalimantan Selatan, akan tetapi sesuai harapan Jepang pemberontakan yang dipimpin mantan Gubernur Borneo ini gagal total Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada 25 pemimpinnya ditambah tewasnya 250 orang. 

Pemberontakan di Kalimantan Selatan yang berujung kegagalan ini menjadi suatu inspirasi untuk melaksanakan hal serupa di Kalimantan Barat untuk melanjutkan perjuangan melawan Jepang hal ini menjadi kekhawatiran besar bagi Jepang, untuk itu Jepang memutuskan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan secara bertahap mulai dilakukan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dicurigai dari berbagai kalangan. 

Pada tanggal 23 Oktober 1943 gelombang penangkapan dimulai dengan menahan penguasa swapraja, tokoh masyarakat, kaum cerdik pandai dan menahan nya di markas Tokketai, beberapa kerabat dan tokoh-tokoh lain juga ditangkap dan tidak pernah kembali. 

Selanjutnya pada tanggal 24 mei 1944 konferensi Nissinkai di Pontianak dirubah menjadi ajang penangkapan Akbar seluruh peserta yang hadir ditangkap yang lainnya diciduk dirumah masing-masing pada dinihari puncaknya pada tanggal 28 Jun 1944 sidang kilat dilaksanakan untuk membantai mereka yang ditangkap aksi kejam yang dilakukan oleh Jepang ini membuat Lapisan pimpinan masyarakat di Kalimantan Barat pun satu demi satu menghilang dan mati. 

Pada hari Sabtu 1 juli 1944 Jepang mengumkan telah melaksanakan aksi penangkapan dan menghukum mati mereka yang diduga berkomplot melawan dari tanggal 2 oktober 1943 hingga 28 juni 1944. Peristiwa ini sangat mengejutkan warga khususnya di Pontianak akhirnya apa yang menjadi kegelisahan akan nasib sanak saudara kerabat maupun orang yang dicintai ketika dijemput Jepang terjawab sudah. Tentu rasa keterkejutan itu berlanjut pada keguncangan perasaan bagi yang ditinggalkan Terpukul dan sedih, kala Itu keluarga korban atau kerabat korban tidak pernah mengetahui untuk apa mereka dibawa Jepang dan Kapan mereka akan dikembalikan Jepang? pertanyaan yang menggantung tersebut akhirnya terjawab sudah dengan keharuan.

Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di dua kota di Jepang pengeboman ini kemudian melumpuhkan kondisi politik dan ekonomi Jepang peristiwa nahas Hiroshima dan Nagasaki itulah yang menghentikan nafas gerak dan langkah Jepang untuk melakukan pembantaian ini. 

Bukan berarti setelah peristiwa mandor 28 juni 1944 ini tidak melakukan pembantaian lagi mereka masih berlanjut hingga pada akhirnya keheroikan Pangsuma memimpin rakyat termasuk suku Dayak untuk melakukan perlawanan sengit kepada Jepang Sehingga Kaisu Nakatani sebagai pimpinan tentara Jepang di Sumatera Barat dipenggal bahkan berhasil menewaskan sejumlah pejabat dan komandan militer Jepang

Dampak Tragis Tragedi Mandor

Aksi pembantaian massal Jepang ini berdampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat Kalimantan Barat bahkan beberapa tahun setelahnya wilayah ini kehilangan generasi emas dari kalangan terpelajar dan tokoh politik yang sedianya menjadi bekal untuk pembangunan provinsi ini setelah kemerdekaan. 

Peristiwa ini juga menyebabkan terbunuhnya 12 Sultan atau penambahan pemimpin swapraja Pontianak: Sambas, Mampawah, kubu, Tayan, Sanggau, Sintang, Sekadau, Ngabang, Ketapang, Sukadana, Sukadana, dan Simpang. Kekejaman Jepang dalam tragedi berdarah mencuri ini juga mengakibatkan perlawanan etno-gerilya oleh suku Dayak yang berhasil menewaskan sejumlah pejabat dan komandan militer Jepang yang terus berkobar meluas hingga menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Untuk mengenang peristiwa keji itu setiap tanggal 28 Juni diperingati hari berkabung daerah Kalimantan Barat dimana setiap instansi negeri atau swasta diwajibkan untuk mengibarkan bendera merah putih setengah tiang, jumlah korban yang gugur akibat tragedi berdarah mandor ini masih menjadi perdebatan. Namun, Pemerintah provinsi Kalimantan Barat meyakini resmi sebanyak 21.037 jiwa telah dibantai Jepang.

Sekian tulisan kali ini semoga menjadi refleksi untuk tetap mengenang jasa para pahlawan, Salam Jas Merah. 

Posting Komentar untuk "Sejarah Kelam Tragedi Mandor di Kalimantan Barat"