Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang Perjuangan Munir Said Thalib

Kronologi meninggalnya munir

Munir Said Thalib begitulah nama lengkapnya. Ia merupakan sosok pejuang HAM pada masa Orde Baru yang kian berhasil menuntaskan banyak kasus.

Pria kelahiran Batu Malang pada tanggal 8 Des 1965 ini telah banyak berkontribusi dalam memperjuangkan hak azazi manusia dia bahkan dikenal berani dalam bertindak beberapa kasus pelanggaran HAM yang berhasil ditangani Munir diantaranya;

  1. Kasus hilangnya 24 aktivis pada tahun 1997 hingga tahun 1998. 
  2. Kasus pembunuhan besar-besaran terhadap masyarakat sipil di Tanjung Priok pada tahun 1984 hingga tahun 1998. 
  3. Kasus penembakan mahasiswa di Semanggi Pada tahun 1998 hingga tahun 1999 dan masih banyak kasus-kasus yang lainnya. 

Genap 17 tahun sudah kematian Munir Said Thalib masih menuai banyak kontroversi berbagai dugaan dan konspirasi terus mencuat kepermukaan, Munir harus meregang nyawanya saat berada di pesawat dalam perjalanannya dari Jakarta menuju Belanda saat ingin melanjutkan studi pasca sarjananya di Universitas utrecht Belanda.

Biografi Munir Said Thalib 

Munir Said Thalib merupakan buah hasil dari pasangan Said Thalib dan Jamilah, masa kecil Munir dihabiskan di (kota batu, Malang) Munir kecil dikenal sebagai sosok yang aktif dan pemberani dia mengenyam pendidikan dasar dengan bersekolah di SD Muhammadiyah 4 Batu Jawa Timur ketika Munir duduk di bangku kelas 6 SD Ayah Munir meninggal dunia, kepergian ayahnya inilah yang menjadikan Munir sebagai sosok yang mandiri dengan membantu kakaknya berjualan sepatu dan sandal di pasar kota Batu. 

Setelah lulus SD Munir melanjutkan pendidikannya ke SMP Negeri 1 Batu di sekolah inilah Munir dikenal oleh para guru sebagai sosok yang pemberani dan Tidak segan membela teman-temannya yang lemah ketika dijahili oleh teman lain meski tubuhnya kecil dan kerempeng.

Seiring berjalannya waktu Munir yang sudah lulus SMP kemudian melanjutkan pendidikannya ke SMA Negeri 1 Kota Batu. Setelah lulus Munir melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya pada tahun 1985, dari sinilah bakat-bakat kepemimpinan Munir mulai terasa dengan menjajagi kegiatan kegiatan berorganisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus di antaranya senat mahasiswa dan forum-forum belajar dan diskusi bahkan Munir memupuk perannya sebagai aktivis kampus, berkat kewibawaannya dalam berorganisasi inilah Munir pernah ditunjuk sebagai ketua Senat Mahasiswa.

Berawal dari berbagai kegiatan yang diikutinya saat berada dikampus Munir mulai berani beradu argumentasi secara terbuka dengan berbagai kalangan Hai gaya berbicara yang lantang dan apa adanya dapat dilihat dalam berbagai forum termasuk keberaniannya berorasi dihadapan orang banyak untuk membela Kaum marjinal pada masa orde baru.

Dua tahun setelah ia menjadi sarjana hukum pada tahun 1990 Munir mengawali karirnya dengan bekerja di lembaga bantuan hukum di Surabaya pada tahun 1993, saat berada di LBH Munir bersama dengan rekannya Eko Sasmito memfokuskan persoalan buruh termasuk mendampingi kasus Marsinah sebagai penasehat hukum namun kasus ini mengalami kebuntuan karena Marsinah tewas dibunuh. Selain menangani kasus persoalan buruh Munir juga sering berdiskusi dengan para buruh untuk memenuhi hak-hak mereka

Keseriusan Munir dalam menangani hak azasi manusia atau HAM salah satunya dipengaruhi oleh perkenalannya dengan sosok demonstran yang bernama Bambang Sugianto yang sering mengajaknya berdebat dan membuatnya terpacu untuk menekuni dunia hukum, dengan latar belakang kecintaan Munir dalam dunia hukum dan kepeduliannya terhadap hak azazi manusia pada tahun 1996 dia mendirikan komisi untuk orang hilang dan korban tindak kekerasan atau disingkat (KONTRAS) dari kontras inilah tindak agresif sosok Munir Demi kemajuan hak azasi manusiasemakin terlihat nyata, tidak hanya itu Munir juga mendirikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia. 

Melalui kontras Munir ingin menumbuhkan
kepercayaan rakyat bahwa Civil Society sebagai bahan organik demokrasi mampu memberikan perlawanan sistematik terhadap kecenderungan negara yang hegemonial dan sifat-sifat kekuasaan yang otoriter dan militeristik, Ia juga menentang keras penggunaan hukum dari penguasa dan aparat militer yang menciptakan kekerasan struktural dan politik yang tidak berkeadaban. 

Dibalik tubuh kerempeng nya dan perjuangannya dalam menuntaskan berbagai kasus HAM Munir kerap melawan komando
Daerah Militer 5 Brawijaya untuk memperjuangkan kasus kematian Marsinah aktivis Buruh PT CPS Sidoarjo Jawa Timur yang diculik dan dibunuh Selain itu ia juga menyelidiki kasus hilangnya 24 aktivis dan mahasiswa di Jakarta pada masa reformasi 1997 hingga khas 1998

Sederet kasus pelanggaran HAM seperti penembakan mahasiswa di Semanggi hingga pelanggaran HAM masa referendum Timor Timur menjadi Catatan sejarah atas perjuangan Munir.

Dengan kelincahan dan keberanian dalam menentang ketidakadilan pada pemerintahan orde baru membuat Munir tidak disenangi oleh kalangan petinggi sekaligus menjadi target operasional intelejen karena Hal inilah yg cek pihak yang memburu Munir yang diduga perburuan ini sebagai latar belakang pembunuhan Munir.

Kronologi Kematian Munir Said Thalib

6 Sep 2004, Munir melakukan perjalanan ke Belanda untuk melanjutkan studi pascasarjana jurusan hukum di Universitas Utrecht, Belanda. Keberangkatan Munir menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 974 dia berangkat dari Bandara soekarno-hatta dengan diantar oleh sang istri dan kemudian pesawat berangkat pada pukul 21. 30 WIB, tiga jam setelah lepas landas dari Singapura salah satu awak kabin melaporkan kepada pilot pesawat bahwa seseorang yang bernama Munir yang duduk di bangku nomor 40 terlihat sakit hal ini diketahui setelah beberapa kali Munir mondar-mandir ke toilet untuk buang air dan mengalami muntah-muntah sontak pilot meminta awak kabin untuk terus memantau kondisinya, Munir pun akhirnya dipindahkan ke sebelah tempat duduk salah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi sebagai dokter yang juga berusaha untuk menolongnya saat itu. 

Namun dua jam sebelum pendaratannya di bandara Schipol, Amsterdam tepat pada tanggal 7 September 2004 pukul 08.00 waktu Belanda Saat diperiksa Munir Hai tidak bisa diselamatkan. tidak lama kemudian jenazah Munir dibawa ke rumah sakit di Belanda untuk dilakukan otopsi, setelah dilakukan otopsi pada tanggal 12 November 2004 pihak polisi Belanda mengabarkan bahwa ditemukan senyawa arsenik yang melebihi dosis yang ada di dalam tubuh Munir senyawa itu diketahui terdapat di dalam air seni, darah, dan jantung yang jumlahnya melebihi kandungan normal hal ini juga telah dikonfirmasi oleh pihak Kepolisian Indonesia saat itu belum diketahui siapa yang telah meracuni Munir kematian Munir pun diketahui sangat tidak wajar.

Semoga dengan dengan adanya tulisan ini menjadi refleksi untuk tetap menjunjung tinggi kebenaran biarpun menghadapi banyak tantangan sampai titik darah penghabisan. 

Alfatihah untuk Alm. Munir Said Thalib. 


Posting Komentar untuk "Mengenang Perjuangan Munir Said Thalib"